Ummu Waraqah r.a.: Ahli Al-Qur’an dari Kalangan Perempuan

Ummu Waraqah r.a.: Ahli Al-Qur’an dari Kalangan Perempuan

Di Madinah, di antara rumah-rumah sederhana para sahabat, tinggal seorang perempuan yang hatinya dipenuhi cahaya Al-Qur’an—Ummu Waraqah r.a. Ia bukan dikenal karena harta atau kedudukan, melainkan karena kedekatannya dengan Kalamullah dan kecintaannya yang mendalam kepada ibadah.

Ummu Waraqah r.a.: Ahli Al-Qur’an dari Kalangan Perempuan

Sejak awal masuk Islam, Ummu Waraqah r.a. mencurahkan hidupnya untuk menghafal dan memahami Al-Qur’an. Ayat demi ayat ia jaga dengan penuh kesungguhan. Bacaan Qur’annya indah, khusyuk, dan menenangkan hati siapa pun yang mendengarnya. Karena keilmuannya, Rasulullah ﷺ memberi perhatian khusus kepadanya.
Ketika Perang Badar akan berlangsung, Ummu Waraqah r.a. datang kepada Rasulullah ﷺ dengan penuh harap. Ia meminta izin untuk ikut serta agar dapat merawat para mujahid yang terluka dan berharap memperoleh syahid.
Rasulullah ﷺ memandangnya dengan kasih, lalu bersabda agar ia tetap tinggal di rumahnya, karena Allah telah menyiapkan baginya kesyahidan dengan cara yang lain. Sejak itu, Rasulullah ﷺ sering menyebutnya dengan gelar “asy-syahīdah”—perempuan yang akan mati syahid.
Rasulullah ﷺ juga memberikan keistimewaan yang luar biasa: Ummu Waraqah diizinkan menjadi imam shalat bagi penghuni rumahnya, yang di dalamnya terdapat laki-laki dan perempuan. Ini menunjukkan kemuliaan ilmunya dan kedalaman pemahamannya terhadap Al-Qur’an. Rumahnya pun dikenal sebagai tempat ibadah dan bacaan Qur’an yang hidup.
Hari-hari Ummu Waraqah r.a. dipenuhi dengan shalat malam, tilawah, dan doa. Ia hidup sederhana, namun jiwanya kaya dengan iman. Al-Qur’an bukan hanya ia baca, tetapi ia jadikan pedoman hidup—dalam sabar, dalam syukur, dan dalam pengabdian.
Sebagaimana yang disampaikan Rasulullah ﷺ, kesyahidan Ummu Waraqah r.a. akhirnya benar-benar terjadi. Ia wafat dalam keadaan dizalimi oleh pelayannya sendiri. Mendengar kabar itu, Umar bin Khattab r.a. berkata, “Benarlah sabda Rasulullah ﷺ,” lalu beliau memerintahkan agar pelakunya dihukum.
Kisah Ummu Waraqah r.a. mengajarkan bahwa kedudukan mulia di sisi Allah terbuka luas bagi perempuan berilmu, yang menjadikan Al-Qur’an sebagai napas kehidupannya. Ia adalah bukti bahwa cahaya wahyu mampu mengangkat derajat siapa pun yang bersungguh-sungguh menjaganya.
Semoga Allah meridhai Ummu Waraqah r.a. dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mencintai, membaca, dan mengamalkan Al-Qur’an. Aamiin.

Dishare kembali oleh KOMHIS.ID dari laman Facebook : Ustadz Fatih Karim

KOMHIS | Komunitas Muslim Hijrah Sentul
To Top