Kisah Rasulullah ﷺ Mengirim Surat kepada Raja-Raja Dunia
Kisah Rasulullah ﷺ Mengirim Surat kepada Raja-Raja Dunia
KOMHIS.ID - Pada tahun 7 Hijriah, setelah terjadinya Perjanjian Hudaibiyah, situasi Jazirah Arab mulai tenang. Rasulullah ﷺ melihat bahwa dakwah Islam tidak lagi terhalang oleh peperangan. Inilah momen yang tepat untuk menyampaikan risalah Islam ke seluruh penjuru dunia.Rasulullah ﷺ bersabda bahwa para raja tidak menerima surat tanpa stempel, maka beliau pun membuat cincin stempel dari perak bertuliskan:
Muhammad Rasulullah
(disusun tiga baris sebagai bentuk adab,
bukan kesombongan)
Dengan stempel itulah surat-surat dakwah dikirimkan, bukan sebagai raja dunia, melainkan sebagai utusan Allah.
Meskipun dikirim ke berbagai raja, isi surat Rasulullah ﷺ memiliki pola yang hampir sama:
• Dimulai dengan Basmalah
• Salam bagi orang yang mengikuti petunjuk
• Ajakan kepada Islam dan tauhid
Penegasan bahwa Rasulullah ﷺ adalah utusan Allah untuk seluruh manusia
Peringatan lembut tentang tanggung jawab pemimpin atas rakyatnya, Bukan kata kasar, bukan ancaman, melainkan seruan dengan wibawa kenabian.
1. Surat kepada Heraklius (Kaisar Romawi Timur)
Surat ini dibawa oleh Dihyah bin Khalifah al-Kalbi ke istana Heraklius di Syam.Heraklius adalah penguasa besar, cerdas, dan memahami kitab-kitab sebelumnya.
Ia mengumpulkan para pembesar Romawi dan bertanya:
“Siapa di antara kalian yang paling dekat nasabnya dengan orang yang mengaku nabi ini?”
Saat itu, Abu Sufyan, yang masih musyrik, dipanggil. Heraklius menanyainya
dengan teliti:
Apakah Muhammad ﷺ dikenal pendusta?
Apakah pengikutnya bertambah atau berkurang?
Apakah ia mengkhianati janji?
Semua jawaban Abu Sufyan justru menguatkan kenabian Rasulullah ﷺ.
Heraklius berkata:
“Jika apa yang kau katakan benar, maka ia adalah nabi yang telah kami tunggu.”
Namun, ketika Heraklius mencoba mengajak para pembesarnya menerima Islam, mereka menolak keras. Demi mempertahankan kekuasaan, Heraklius mengurungkan niatnya, meski ia meyakini kebenaran itu.
2. Surat kepada Kisra (Raja Persia)
Surat Rasulullah ﷺ dibawa oleh Abdullah bin Hudhafah as-Sahmi. Saat Kisra membaca surat itu, ia murka.Dengan angkuh ia berkata:
“Bagaimana mungkin seorang Arab menuliskan namanya sebelum namaku?”
Ia lalu merobek surat Rasulullah ﷺ.
Ketika kabar itu sampai kepada Nabi ﷺ,
beliau bersabda:
“Semoga Allah merobek kerajaannya.”
Tak lama kemudian:
• Kisra dibunuh oleh putranya sendiri
• Kekaisaran Persia runtuh
• Kekuasaan mereka tercerai-berai
Semua terjadi persis sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ.
3. Surat kepada Najasyi (Raja Habasyah)
Najasyi bukan raja biasa. Ia dikenal adil dan berhati lembut. Surat Rasulullah ﷺ dibacanya dengan penuh khidmat.Ia menangis, lalu berkata:
“Demi Allah, ini adalah nabi yang dijanjikan
Isa عليه السلام.”
Najasyi menerima Islam secara diam-diam, karena jika ia menampakkan keimanannya, negerinya akan bergolak.
Saat Najasyi wafat, Rasulullah ﷺ memberitahu para sahabat:
“Hari ini telah wafat seorang saudara kalian.”
Rasulullah ﷺ lalu menyalatkannya secara ghaib, sebuah kehormatan besar bagi Najasyi.
4. Surat kepada Muqauqis (Penguasa Mesir)
Muqauqis adalah penguasa yang cerdas dan berhati-hati. Ia tidak masuk Islam, namun menghormati Rasulullah ﷺ.Ia mengirim balasan yang sopan,
disertai hadiah:
• Pakaian
• Harta
• Dua wanita, salah satunya Maria al-Qibthiyyah
Muqauqis memilih aman dalam dunia,
tetapi kehilangan kesempatan besar untuk akhirat.
Hikmah Besar dari Kisah Ini
1. Rasulullah ﷺ berdakwah dengan keberanian dan kelembutan sekaligus
2. Kebenaran tidak selalu ditolak karena tidak jelas, tetapi karena takut kehilangan kekuasaan
3. Islam datang bukan untuk menghancurkan, melainkan mengajak dengan adab dan hikmah
Di Reshare oleh KOMHIS.ID
