Kisah Mengharukan Sahabat Nabi Bernama: BILAL BIN RABAH

Kisah Mengharukan Sahabat Nabi Bernama:
BILAL BIN RABAH

Lelaki dari Selatan

Bilal bin Rabah berasal dari Habasyah (Afrika Timur), tanah jauh di selatan yang mataharinya keras dan tanahnya berdebu. Kulitnya hitam legam, bukan karena hina, tetapi karena lahir di bawah langit Afrika yang jujur. Tubuhnya kurus dan tinggi, dipahat oleh kerja dan perjalanan yang tidak pernah dia pilih. Rambutnya keriting rapat, wajahnya sederhana, wajah yang tidak pernah dipersiapkan dunia untuk dimuliakan.
Bilal bukan keturunan bangsawan. Dia tidak membawa silsilah. Yang dia bawa hanya tubuhnya sendiri dan hati yang belum tau akan menjadi sekeras apa dunia memperlakukannya.

Kisah mengharukan sahabat Nabi bernama: BILAL BIN RABAH
***

Jalan Menuju Rantai

Sesungguhnya, Bilal tidak lahir sebagai budak. Namun, dia dijadikan budak. Perang, perampasan, dan perdagangan manusia membawa tubuhnya menyeberangi laut dan gurun. Dari tangan ke tangan, hingga akhirnya dia tiba di Mekah, kota yang kaya, tetapi miskin belas kasih.
Di Mekah, Bilal dijual, lalu dibeli oleh Umayyah bin Khalaf.
Umayyah bin Khalaf al-Jumahi adalah salah satu pembesar Quraisy dari Bani Jumah, saudagar kaya Mekah dan pemilik banyak budak. Dari tangannya, Bilal bin Rabah jatuh ke dalam perbudakan yang kejam, sebelum iman mengangkatnya ke derajat yang mulia. Transaksi itu singkat. Tidak ada yang bertanya siapa Bilal, dari mana dia datang, atau apa yang dia inginkan. Sejak hari itu, hidupnya ditentukan oleh suara tuannya.
***

Rumah Umayyah

Umayyah bin Khalaf adalah lelaki yang percaya bahwa kekuasaan harus dirasakan melalui rasa takut. Di rumahnya, Bilal bukan manusia, melainkan alat. Dia bekerja, dipanggil, dimarahi, dan dipukul dengan alasan yang sering kali tidak perlu alasan.
Satu hal yang Bilal rasakan saat ini adalah diam sebagai cara bertahan hidup. Menunduk adalah bahasa yang dimengerti para tuan.
Namun diam tidak selalu berarti kosong.
***

Kabar dari Seorang Bernama Muhammad

Hingga saatnya, Bilal mendengar desas-desus tentang seorang lelaki bernama Muhammad yang berbicara tentang Tuhan Yang Esa. Bukan Tuhan milik bangsawan, bukan Tuhan yang bisa dibeli dengan sesaji, tetapi Tuhan yang melihat semua manusia setara sebagai hamba. Kata-kata itu menyelinap ke dada Bilal tanpa izin. Ia menetap. Ia menolak pergi. Bilal tidak langsung berbicara. Dia hanya tau, untuk pertama kalinya, dirinya merasa dilihat.
***

Pilihan yang Tidak Aman

Ketika Bilal mengucapkan syahadat, tidak ada perayaan. Tidak ada saksi ramai. Hanya dada yang bergetar dan air mata yang jatuh diam-diam. Bilal tau, bahwa pilihannya sangat mahal. Akan tetapi, ada harga yang lebih mahal lagi, yakni jik hidup tanpa kebenaran.
***

Kemurkaan Tuan

Umayyah mengendus perubahan pada budaknya itu. Dari cara Bilal berdiri. Dari caranya memandang. Dari ketenangan yang tidak bisa dijelaskan.
“Kau mengikuti agama Muhammad?” tanyanya.
“Tuhanku satu,” jawab Bilal.
Hari itu, belas kasih dihapus dari halaman rumah Umayyah.
***

Batu di Dada

Umayyah menyeret Bilal ke tanah lapang, dipertontonkan kepada banyak oranf. Matahari Mekah tidak berbelas kasih, ia hanya memandang diam melalui teriknya yang menyengat. Sengatan teriknya hingga membuat batu apabila dipegang, tangan merasa terbakar. Umayyah mengangkat sebongkah batu. Batu besar itu diletakkan di dada Bilal. Nafas budaknya itu tercekik. Kulitnya terbakar.
“Kembalilah!” teriak mereka.
Namun dari mulut Bilal keluar satu kata yang sederhana.
“Ahad.”
Bukan hanya batu yang ditindihkan ke dada Bilal, tapi juga cambukan yang nyaris tidak ada henti-hentinya. Batu dan cambukan tidak membungkam mulut Bilal untuk mengatakan bahwa Tuhan itu Ahad, satu-satunya. Kata itu terus keluar, seperti denyut nadi.
Orang-orang menyaksikan. Bilal tetap di sana, di bawah batu, memegang satu-satunya yang dia miliki —iman. Sebagian iba. Sebagian takut. Sebagian berpaling. Mekah jadi tau, bahwa kezaliman bisa berlangsung lama jika cukup banyak orang memilih diam. Namun, seseorang bernama Abu Bakar ash-Siddiq memilih bertindak.
***

Tangan yang Membebaskan

Abu Bakar datang tidak membawa amarah, melainkan keputusan. Emas dari tangannya berpindah ke tangan Umayyah. Rantai dilepas.
Bilal bebas.
Ketika itu, Bilal menangis, bukan karena sakit, tetapi karena untuk pertama kalinya, dunia mengakuinya sebagai manusia.
***

Dekat dengan Nabi

Setelah Bilal bin Rabah dibeli dan dimerdekakan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq, hidupnya tidak kembali ke bayang-bayang masa lalu. Dia tidak mencari kekayaan, tidak pula kembali kepada kabilah, sebab sejak awal dia tidak memilikinya. Bilal justru mendekat ke pusat cahaya yang selama ini dia bela dengan darah dan luka —Nabi Muhammad ﷺ.
Sejak itu, Bilal sering berada di sekitar Nabi. Dia melayani dengan penuh cinta, menjaga dengan kesetiaan, dan mendengarkan setiap sabda melalui hati yang lapang. Nabi ﷺ tidak pernah memandang Bilal sebagai bekas budak, melainkan sebagai saudara seiman. Bahkan, dalam banyak kesempatan, Nabi memuliakannya di hadapan para sahabat.
Ketika adzan disyariatkan di Madinah, Nabi memilih Bilal bukan karena garis keturunan atau kedudukannya, melainkan karena suara Bilal yang jernih, lantang, dan menembus dada, serta karena keimanannya yang telah teruji di bawah batu dan cambuk. Sejak hari itu, suara Bilal bukan lagi suara seorang budak, melainkan suara Islam itu sendiri.
"Suaramu jujur wahai, Bilal," kata Nabi.
***

Suara yang Mengubah Waktu

Ketika Bilal mengumandangkan adzan, udara bergetar. Itu bukan sekadar panggilan shalat, melainkan sejarah yang berbicara. Budak yang dulu diinjak-injak, kini memanggil manusia menghadap Tuhan.
Langkah di Surga
“Wahai Bilal,” kata Nabi suatu malam, “aku mendengar langkahmu di surga.”
Bilal tidak tau kapan dia pantas mendengarnya. Mungkin ketika dia bersabar. Mungkin ketika dia tetap setia. Atau mungkin ketika dia tetap rendah hati.
****

Hari Ketika Tanpa Suara Bilal

Ketika Nabi wafat, dunia Bilal runtuh. Kesedihan mendalam menyelimuti jiwanya. Kehilangan Nabi, seperti kehilangan seluruh hidupnya yang bahkan hanya tinggal memiliki nyawa. Dia tidak mau berbicara, tidak ingin bertemu siapa pun. Bilal hanya ingin bertemu Nabi kembali.
Waktu shalat tiba. Bilal naik ke tempat tinggi untuk melantunkan adzan seperti biasa. Akan tetapi, ketika sampai pada nama 'Muhammad', suaranya patah. Bilal menangis, tak kuat menahan rindunya. Dia pun turun. Air matanya terus jatuh. Begitu berdukanya Bilal kehilangan Nabi Muhammad ﷺ.
Para sahabat mengerti perasaan Bilal, kemudian berusaha menenangkannya. Hingga akhirnya Bilal pun mengumandangkan adzan sekali lagi. Orang-orang pun jadi menangis. Madinah bergetar oleh rindu.
Setelah melantunkan adzan di tempat biasa itu, Bilal pergi. Ada cinta yang terlalu dalam untuk terus diucapkan dengan suara. Namun suaranya, suara Bilal yang lahir dari dada yang diremukkan batu itu masih memanggil manusia, hingga hari ini.
Masya Allah.
-----------
Catatan:
Kisah sejarah ini saya sampaikan dengan gaya narasi pribadi, bukan merupakan text hadits dan text sejarah literal. Peristiwa pokok penyiksaan Bilal, pembebasan, pengangkatannya sebagai muadzin, kedekatannya dengan Nabi ﷺ, serta kesedihannya hingga enggan mengumandangkan adzan setelah wafat Nabi, memiliki dasar kuat dalam riwayat sirah dan hadits, tanpa berusaha penambahan fakta historis baru.
Rujukan utama:
– Sirah Ibnu Hisyam
– Al-Bidayah wan Nihayah (Ibnu Katsir)
– Ash-Shahabah (Ibnu Hajar al-‘Asqalani)
– Riwayat tentang keutamaan Bilal dalam
hadits-hadits shahih
To Top