KEGIATAN PARA PENGHUNI NERAKA: Kesibukan Abadi yang Penuh Penyesalan
KEGIATAN PARA PENGHUNI NERAKA
Kesibukan Abadi yang Penuh Penyesalan
Ketika hari perhitungan telah selesai, ketika amal perbuatan ditimbang dan keputusan Allah telah ditetapkan, manusia pun terpisah. Sebagian menuju rahmat, sebagian menuju azab. Bagi mereka yang menolak kebenaran, meremehkan perintah Allah, dan wafat tanpa taubat, dimulailah kehidupan baru yang tidak mengenal istirahat.
Itulah kehidupan para penghuni neraka.
Bukan tidur, Bukan mati, Bukan pula sekadar api.
Melainkan kesibukan abadi yang penuh azab dan penyesalan.
Jeritan dan Permohonan yang Tak Pernah Berhenti
Sejak pertama kali dilemparkan ke dalam neraka, suara yang terdengar bukan hanya gemuruh api, melainkan jeritan manusia yang tiada henti.
Allah berfirman:
“Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu bergolak.”
(QS. Al-Mulk: 7)
Hari demi hari, bahkan selama-lamanya, mereka berteriak dan memohon:
Allah berfirman:
“Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami darinya. Jika kami kembali (berbuat durhaka), sungguh kami orang-orang yang zalim.”
(QS. Al-Mu’minun: 107)
Namun jawaban yang datang hanyalah kehinaan:
Allah berfirman:
“Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah berbicara dengan-Ku.”
(QS. Al-Mu’minun: 108)
Doa mereka tidak lagi didengar.
Terbakar, Kulit Diganti, Lalu Terbakar Kembali
Api neraka bukan seperti api dunia. Ia hidup, menyala, dan menguliti.
Allah berfirman:
“Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain agar mereka merasakan azab.”
(QS. An-Nisa’: 56)
Di dunia, kulit yang terbakar akan mati rasa.
Di neraka, kulit diganti agar rasa sakit terus hidup.
Ini bukan hukuman sesaat, melainkan kesibukan tanpa jeda.
Makanan dan Minuman yang Menambah Azab
Ketika lapar datang, mereka tidak diberi kelegaan, melainkan penderitaan tambahan.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya pohon zaqqum itu adalah makanan bagi orang yang banyak berdosa.”
(QS. Ad-Dukhan: 43–44)
Buahnya pahit, panas, dan menyiksa.
Tentang minuman mereka, Allah berfirman:
“Jika mereka meminta minum, mereka diberi air seperti besi yang mendidih, yang menghanguskan wajah.”
(QS. Al-Kahfi: 29)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jika setetes dari zaqqum diteteskan ke dunia, niscaya akan merusak kehidupan penduduk dunia.”
(HR. Tirmidzi)
Mereka makan bukan untuk menghilangkan lapar, melainkan untuk menambah azab.
Saling Menyalahkan dan Bermusuhan
Di dunia mereka bersatu dalam dosa.
Di neraka mereka saling memusuhi.
Allah berfirman:
“Teman-teman akrab pada hari itu menjadi musuh satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Az-Zukhruf: 67)
Pengikut menyalahkan pemimpin.
Anak menyalahkan orang tua.
Istri menyalahkan suami.
Allah berfirman:
“Sekiranya kami menaati Allah dan Rasul, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka.”
(QS. Al-Ahzab: 66)
Namun penyesalan itu datang terlambat.
Ingin Mati, Tetapi Kematian Diharamkan
Di dunia, kematian adalah akhir.
Di neraka, kematian adalah harapan yang tidak pernah dikabulkan.
Allah berfirman:
“Mereka tidak mati di dalamnya dan tidak pula hidup.”
(QS. Al-A’la: 13)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Didatangkan kematian dalam bentuk kambing, lalu disembelih. Dikatakan: Wahai penghuni neraka, kalian kekal dan tidak ada kematian.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah azab terbesar: hidup tanpa harapan.
Penyesalan yang Tak Pernah Usai
Setiap detik para penghuni neraka diliputi penyesalan.
Allah berfirman:
“Alangkah baiknya sekiranya dahulu kami mendengarkan atau memikirkan, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka.”
(QS. Al-Mulk: 10)
Penyesalan menjadi aktivitas utama mereka.
Namun Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang cerdas adalah orang yang menundukkan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.”
(HR. Tirmidzi)
Penyesalan hanya berguna sebelum kematian.
Doa
Ya Allah, lindungilah kami dari neraka dan segala jalan yang mengantarkan kepadanya.
Jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang menyesal ketika penyesalan tidak lagi berguna.
Masukkanlah kami ke dalam surga-Mu tanpa hisab, dengan rahmat-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
