Isrā’ Nabi Perjalanan Malam yang Isinya “Roadmap Hidup”

Isrā’ Nabi ﷺ: Perjalanan Malam yang Isinya “Roadmap Hidup”

Oleh Ustadz Aan Sufyan

KOMHIS.ID - Buat banyak orang, Isrā’ Nabi Muhammad ﷺ cuma dianggap perjalanan super cepat mengendarai Buraq ditemani Jibril : dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqshā, semalam.

Isrā’ Nabi ﷺ Perjalanan Malam yang Isinya “Roadmap Hidup”

Padahal…

Isrā’ bukan sekadar perjalanan. Ia adalah peta hidup.
Dalam perjalanan itu, Nabi ﷺ singgah di beberapa tempat penting. Bukan karena capek. Bukan karena nyasar.
Tapi karena setiap tempat menyimpan pesan besar—dan surprisingly, relevan banget buat hidup kita hari ini.

1. Singgah di Yatsrib (Madinah): Saat Perubahan Butuh Hijrah

Di satu titik, Nabi ﷺ berhenti dan shalat.
Jibril lalu berkata:
“Kamu shalat di tempat yang kelak akan menjadi tujuan hijrahmu.”
Artinya jelas:
Sebelum perubahan besar, akan ada hijrah.
Hijrah itu bukan cuma pindah kota.
Melainkan:
pindah cara berpikir
pindah kebiasaan
pindah prioritas
Pelajaran buat kita
Kadang hidup mentok bukan karena kita kurang usaha,
melainkan karena masih bertahan di tempat yang salah.
Nggak semua hal harus diperbaiki dari dalam.
Sebagian harus ditinggalkan.

2. Singgah di Madyan: Ketika Sendiri Bukan Berarti Gagal

Nabi ﷺ juga singgah di Madyan—tempat Nabi Musa pernah:
kabur tanpa memiliki apa-apa
sendirian
bingung masa depan
Di tempat itu Musa cuma berdoa:
“Ya Allah, aku benar-benar butuh kebaikan-Mu.”
Dan justru dari titik nol itulah:
hidup Musa berubah
risalah besar dimulai
Pelajaran buat kita
Merasa sendirian?
Merasa nggak punya apa-apa?
Bisa jadi itu fase awal, bukan fase akhir.
Allah sering memulai misi besar dari orang yang sedang tidak punya apa-apa—kecuali doa.

3. Singgah di Ṭūr Sīnā’: Semua Perubahan Harus Punya Nilai

Di Gunung Sinai, Nabi Musa menerima wahyu.
Di sanalah tauhid ditegakkan.
Nabi ﷺ singgah di sini seolah ingin menegaskan satu hal:
Perubahan tanpa nilai akan melahirkan kekacauan baru.
Aktif, produktif, vokal—itu bagus.
Tapi tanpa arah ilahi, semua bisa melenceng.
Pelajaran buat kita
Berkarya itu penting.
Berjuang itu mulia.
Tapi:
Jangan sampai kita sibuk mengubah dunia,
tapi lupa bertanya: “Ini sesuai nilai Allah atau tidak?”

4. Singgah di Bethlehem: Islam Datang untuk Meluruskan, Bukan Merendahkan

Bethlehem dikenal sebagai tempat kelahiran Nabi ‘Isa عليه السلام.
Nabi ﷺ shalat di sana.
Pesannya lembut namun kuat:
Islam bukan musuh nabi-nabi sebelumnya
Islam datang untuk meluruskan, bukan merendahkan
Pelajaran buat kita
Dalam hidup:
nggak semua yang lama itu salah
nggak semua yang baru itu benar
Kedewasaan itu bukan meniadakan masa lalu,
melainkan menyempurnakannya.

5. Masjidil Aqshā: Kepemimpinan Itu Amanah, Bukan Gengsi

Di Aqshā, Nabi ﷺ memimpin shalat para nabi.
Ini bukan seremoni. Ini simbol.
Pesannya jelas:
kepemimpinan bukan soal siapa paling kuat
tapi siapa paling taat
Pelajaran buat kita
Pengen jadi pemimpin?
Mulai dari:
Jujur
Konsisten
Tanggung jawab
Kepemimpinan sejati lahir dari integritas, bukan sibuk cari validasi dan pencitraan.

Benang Merah Isrā’: Peta Hidup yang Lengkap

Urutannya rapi banget:
Hijrah (Madinah)
Sabar di titik nol (Madyan)
Nilai dan tauhid (Sinai)
Keadilan sejarah (Bethlehem)
Amanah kepemimpinan global (Aqshā)

Isrā’ ngajarin kita:

1. Hidup bukan soal cepat sampai,
melainkan siap melewati proses yang benar.
2. Sebelum naik ke level puncak (mi'raj ke langit) kudu beresin dan kuatin dulu pijakan pondasi dan prosesnya (isra' di bumi) 

Penutup

Kalau hari ini hidup terasa berat,
mungkin kamu sedang ada di salah satu “pos singgah” itu.
Tenang.
Nabi ﷺ juga singgah sebelum sampai tujuan.
Dan itu tandanya:
kamu masih dalam perjalanan,
belum tentu tersesat, 
namun jika ingin pasti selamat dunia akhirat,
ada syarat, yakni kudu taat syariat sepanjang hayat dan di semua tempat

To Top