Marhaban Ya Ramadhan: MULIA DENGAN TAKWA, BERKAH DENGAN SYARIAH (Buletin Kaffah 432)
Marhaban Ya Ramadhân:MULIA DENGAN TAKWA, BERKAH DENGAN SYARIAH
Buletin Kaffah Edisi 432 (25 Sya’ban 1447 H/13 Februari 2026 M)
RAMADHAN, bulan yang penuh keagungan dan keberkahan, akhirnya akan mendatangi kaum Muslim. Inilah bulan yang dari awal hingga akhir penuh dengan keutamaan. Inilah bulan yang berisi rahmat dan ampunan. Di dalamnya juga ada pembebasan dari api neraka.Ramadhan juga sangat istimewa karena di dalamnya ada satu malam yang nilainya lebih mulia dari seribu bulan. Itulah Lailatul Qadar. Tidak yang ada seperti ini kecuali hanya pada bulan Ramadhan.
Keutamaan Shaum Ramadhan
Shaum Ramadhan adalah salah satu rukun Islam yang menjadi penegak agama. Nabi saw. bersabda:بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Islam dibangun di atas lima perkara: kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berhaji ke Baitullah; dan shaum Ramadan (HR al-Bukhari).
Dalam hadis yang mulia ini, Nabi ﷺ menyerupakan Islam dengan sebuah bangunan yang kokoh. Beliau menggambarkan lima rukun Islam sebagai fondasi yang kuat dan teguh yang menopang bangunan tersebut. Tanpa fondasi itu, bangunan Islam tidak akan berdiri. Adapun amal-amal Islam lainnya ibarat pelengkap yang menyempurnakan bangunan itu. Karena itu seorang Muslim yang mengabaikan kewajiban shaum Ramadhan sama dengan menghancurkan agamanya sendiri. Allah SWT telah mewajibkan shaum Ramadhan dengan firman-Nya:
فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍۢ فَعِدَّةٌۭ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ
Siapa saja di antara kalian ada pada bulan itu (Ramadhan), hendaklah ia berpuasa. Siapa saja yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajib atas dirinya berpuasa sebanyak hari yang dia tinggalkan pada hari-hari yang lain (TQS al-Baqarah [2]: 185).
Shaum Ramadhan dinamakan syahrul maghfirah (bulan ampunan). Ia menjadi momen pelebur dosa bagi hamba yang berpuasa selama ia tidak melakukan dosa-dosa besar. Rasulullah saw. bersabda:
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ
Shalat lima waktu, (shalat) Jumat ke Jumat berikutnya dan (puasa) Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi (HR Muslim).
Rasulullah saw. juga menyampaikan bahwa Allah SWT membebaskan hamba dari api neraka pada Bulan Ramadhan. Sabda beliau:
إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ، وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ
Sesungguhnya pada setiap hari pada bulan Ramadan ada dari Allah pembebasan dari api neraka. Selama Ramadhan pula, jika setiap Muslim berdoa dengan suatu doa, Allah akan mengabulkan doanya (HR Ahmad).
Berbagai keistimewaan lain juga Allah SWT siapkan bagi hamba-Nya yang menjalankan shaum Ramadhan. Di antaranya: disiapkan bagi mereka gerbang khusus untuk masuk surga, yakni Gerbang ar-Rayyân; bau mulut mereka saat berpuasa akan dijadikan wangi kesturi di akhirat; mereka yang berpuasa diberi dua kebahagiaan, yakni saat berbuka dan saat berjumpa dengan Allah kelak di surga-Nya.
Mulia dengan Takwa
Tentu memprihatinkan jika masih ada Muslim yang mengabaikan shaum Ramadhan tanpa uzur syar’i. Sungguh ia telah kehilangan kesempatan mendulang kebaikan besar. Ia justru malah tenggelam dalam kemaksiatan besar. Nabi saw. bersabda:«بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِي رَجُلَانِ فَأَخَذَا بِضَبْعَيَّ» وَسَاقَ الْحَدِيثَ، وَفِيهِ قَالَ: "ثُمَّ انْطَلَقَا بِي فَإِذَا قَوْمٌ مُعَلَّقُونَ بِعَرَاقِيبِهِمْ، مُشَقَّقَةٌ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا، قُلْتُ: «مَنْ هَؤُلَاءِ؟» قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ...
“Ketika aku sedang tidur, datanglah dua orang laki-laki kepadaku. Mereka lalu memegang kedua lenganku.” Beliau pun melanjutkan hadis tersebut. Di dalamnya beliau berkata, “Kemudian keduanya membawaku. Tampaklah suatu kaum yang digantung pada tumit mereka. Terbelah sudut-sudut mulut mereka. Mulut mereka pun mengalirkan darah. Aku bertanya, ‘Siapakah mereka ini?’ Dijawab, ‘Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa Ramadhan sebelum waktunya halal bagi mereka untuk berbuka.’...” (HR an-Nasa’i).
Sungguh disayangkan jika ada Muslim yang tidak bersemangat dan bergembira menyambut Ramadhan. Padahal Allah hanya meminta kita berpuasa di dalamnya dengan meninggalkan sejenak saja kenikmatan duniawi seperti makan, minum dan hubungan suami-istri. Sebagai ganjarannya, Allah SWT akan mengangkat hamba-hamba-Nya ke derajat yang mulia, yaitu menjadi orang-orang yang bertakwa. Demikian sebagaimana firman-Nya:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa (TQS al-Baqarah [2]: 183).
Tidak ada manusia yang derajatnya lebih tinggi di hadapan Allah melainkan orang yang bertakwa. Takwa adalah menjalankan segenap perintah Allah SWT dan meninggalkan semua larangan-Nya. Mereka yang paling bertakwa dinyatakan oleh Allah SWT sebagai orang yang paling mulia di sisi-Nya. Demikian sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian (TQS al-Hujurat [49]: 13).
Dengan ketakwaan itulah kaum Muslim menguasai dunia selama hampir 14 abad. Berbondong-bondong umat manusia memeluk Islam. Baik bangsa Arab ataupun non-Arab tunduk pada Islam di bawah kepemimpinan kaum Muslim. Inilah janji Rasulullah saw., bahwa kalimat tauhid akan mengantarkan pemiliknya untuk memimpin di dunia dan mendapat kemenangan di akhirat. Beliau bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، قُولُوا لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ تُفْلِحُوا وَتَمْلِكُوا بِهَا الْعَرَبَ وَتَذِلَّ لَكُمُ الْعَجَمُ، وَإِذَا آمَنْتُمْ كُنْتُمْ مُلُوكًا فِي الْجَنَّةِ
Wahai manusia, ucapkanlah Lâ ilâha illâ Allâh (Tiada tuhan selain Allah), niscaya kalian akan beruntung. Dengan kalimat ini kalian akan menguasai bangsa Arab. Bangsa non-’Arab pun akan tunduk kepada kalian. Jika kalian beriman, niscaya kalian akan menjadi raja-raja di surga (Dr. Said Ramadhan al-Buthiy, Fiqh as-Sîrah an-Nabawiyah ma’a Mujiz li at-Târîkh al-Khilâfah ar-Râsyidah, I/115, Maktabah Syamilah).
Karena itu, jika kaum Muslim ingin kembali memimpin dunia, mereka harus menjadi insan-insan yang bertakwa. Mereka harus menjalankan syariah Allah SWT secara total dalam seluruh aspek kehidupan mereka.
Berkah dengan Syariah
Shaum Ramadhan adalah bagian dari syariah Islam. Sebagaimana shaum Ramadhan wajib dilaksanakan, demikian pula seluruh syariah Islam yang lain. Kaum Muslim wajib hanya mengamalkan dan menerapkan syariah Islam. Mereka tidak boleh memilih aturan lain. Inilah wujud ketakwaan. Ketakwaan pasti akan mendatangkan keberkahan. Demikian sebagaimana firman-Nya:وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَـٰتٍۢ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ
Andai penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi (TQS al-A’raf [7]: 96).
Para ulama menjelaskan makna keberkahan sebagai tetapnya kebaikan dari Allah SWT dan keberlanjutannya, lalu dari keberkahan itu lahirlah kebahagiaan di dunia serta limpahan pahala di akhirat.
Di dunia, syariah Islam menjanjikan kebaikan bagi umat manusia berupa keadilan dalam hukum, sosial dan ekonomi. Secara hukum, syariah Islam memperlakukan sama semua manusia tanpa ada privilege. Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. pernah dikalahkan oleh seorang Yahudi di pengadilan lewat keputusan Qadhi Syuraih. Secara sosial syariah Islam memperlakukan manusia sama; tanpa melihat perbedaan suku, ras, atau status sosial dan ekonominya. Rasulullah saw. mempersaudarakan kaum Muhajirin yang berasal dari Makkah dengan kaum Anshar penduduk asli Madinah. Semua warga negara, Muslim maupun non-Muslim, juga berhak mendapatkan pelayanan yang sama dari Negara Khilafah.
Dalam bidang ekonomi semua warga negara berhak mendapatkan penghidupan yang layak serta kesempatan untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam perlindungan dan jaminan negara. Bahkan Islam melarang keras harta hanya dinikmati oleh orang-orang kaya saja. Harta harus beredar di masyarakat untuk menggerakkan perekonomian. Syariah Islam juga melarang individu/swasta/asing menguasai SDA yang dibutuhkan oleh rakyat seperti migas, aneka tambang, hutan serta berbagai fasilitas umum seperti laut, sungai, danau; dsb.
Hamba-hamba yang beriman pastinya selalu berharap kemuliaan dan keberkahan dunia dan akhirat. Jalan untuk meraih itu adalah tidak lain dengan mewujudkan ketakwaan. Caranya dengan penerapan syariah Islam secara kâffah dalam seluruh aspek kehidupan. Itu sudah menjadi janji dan ketetapan Allah yang wajib diimani.
Saatnya kita menjadikan Ramadhan kali ini sebagai langkah memantapkan hati untuk berpegang pada Islam dan berjuang mewujudkan penegakan hukum-hukum Allah SWT. Tentu dalam naungan Khilafah. Dengan itulah kemuliaan dan keberkahan akan datang.
WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []
---*---
Hikmah:
Rasulullah saw. bersabda:أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرْدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ. فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan kalian berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu, pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan itu pula terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan.
(HR an-Nasa'i). []
