Bukan Ilusi: Persatuan Islam sejak era Baginda Muhammad SAW
Bukan Ilusi: Persatuan Islam sejak era Baginda Muhammad SAW
Beginilah Keadaan Kita Sebelum Perjanjian Sykes-Picot
Dari pakaian mereka, Anda akan menyadari bahwa di sana terdapat penumpang dari wilayah Syam, kaum Badui Irak, penduduk Pegunungan Lebanon, hingga pria-pria dari Turki. Mereka semua berada dalam satu gerbong kereta yang sama; tanpa visa, tanpa paspor, dan tanpa kartu identitas.
Mereka berpindah-pindah di antara kota-kota kuno di Syam, menuju kota (Al-Quds/Yerusalem)—kiblat pertama umat Islam—lalu melanjutkan perjalanan menuju oase-oase di Yordania, hingga sampai ke gurun Hijaz, Makkah, dan Madinah. Perjalanan itu terasa seolah-olah mereka hanya berada dalam satu kendaraan yang memindahkan mereka dari satu lingkungan ke lingkungan lainnya di dalam satu kota yang sama.
Dalam perjalanan pulang, mereka membawa:
* Kurma dari Hijaz.
* Roti dari Amman.
* Zaitun dari Palestina.
* Anggur dari Syam.
"Kisah-kisah sejarah tidak diceritakan kepada anak-anak agar mereka tertidur, melainkan diceritakan kepada laki-laki agar mereka bangkit dan bersiap diri."
Perjanjian Sykes-Picot (1916) adalah kesepakatan rahasia era Perang Dunia I antara Inggris dan Prancis—dengan restu Rusia—untuk membagi wilayah kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah di Timur Tengah. Perjanjian ini menetapkan zona pengaruh kolonial, di mana Prancis menguasai Suriah dan Lebanon, sementara Inggris menguasai Irak, Yordania, dan sebagian Palestina, yang berdampak pada pembentukan peta politik modern dan konflik berkepanjangan.
Poin-Poin Penting Perjanjian Sykes-Picot:
Latar Belakang:
Ditandatangani pada 16 Mei 1916 oleh diplomat Prancis François Georges-Picot dan diplomat Inggris Sir Mark Sykes.
Tujuan: Membagi wilayah Arab di luar Semenanjung Arab yang berada di bawah Kekaisaran Utsmaniyah setelah perang.
Pembagian Wilayah (Zona):
Prancis: Kendali langsung atas wilayah pesisir Suriah, Lebanon, dan sebagian Turki selatan.
Inggris: Kendali langsung atas Irak (Basra dan Baghdad) dan sebagian Palestina (Haifa dan Acre) untuk akses Mediterania.
Zona Internasional: Palestina (termasuk Yerusalem) akan ditempatkan di bawah administrasi internasional.
Dampak dan Kontroversi:
Pengkhianatan: Bertentangan dengan janji Inggris kepada pemimpin Arab (Perjanjian McMahon-Hussein 1915) yang menjanjikan kemerdekaan bagi wilayah Arab sebagai imbalan pemberontakan terhadap Utsmaniyah.
Batas Artifisial: Garis perbatasan ditarik tanpa mempertimbangkan faktor etnis, agama, atau budaya lokal, memicu ketegangan dan konflik yang berlanjut hingga hari ini.
Pengungkapan: Perjanjian ini dipublikasikan oleh Bolshevik Rusia pada tahun 1917, menyebabkan kemarahan di dunia Arab dan mempermalukan Sekutu.
Perjanjian ini sering dianggap sebagai akar penyebab perpecahan politik dan ketidakstabilan di Timur Tengah.
Jika Anda telah selesai membaca, bershalawatlah kepada baginda Rasulullah (ﷺ).
Reshare oleh KOMHIS.ID dari TURKINESIA
